Dorong Angkong, Dorong Harapan: Aksi Prajurit Kodim 0421/LS di TMMD ke-127

waktu baca 2 menit
Senin, 23 Feb 2026 13:56 4 jalu.atmaja88@gmail.com

Pesawaran — Di bawah terik matahari yang membakar bumi Desa Tanjung Rejo, suara molen terus berputar tanpa henti. Campuran semen, pasir, dan split dituangkan ke dalam angkong. Berat. Basah. Penuh tekanan.

Seorang prajurit dari Kodim 0421/Lampung Selatan menggenggam kuat pegangan angkong itu. Otot lengannya menegang. Roda berderit saat mulai bergerak di atas tanah yang belum sepenuhnya rata. Satu dorongan. Dua dorongan. Nafas memburu, namun langkah tak pernah surut.

“Berat, Bang?” teriak seorang warga sambil membantu mendorong dari belakang.
Sang prajurit tersenyum tipis, keringat menetes dari ujung dagunya.

“Kalau untuk jalan desa ini… tidak ada yang terasa berat.”
Angkong berisi semen cor itu melaju perlahan menuju titik rabat beton. Setiap dorongan bukan hanya memindahkan adukan beton — tetapi memindahkan harapan masyarakat agar jalan desa tak lagi licin saat hujan, tak lagi berdebu saat kemarau.
Seragam loreng milik prajurit Tentara Nasional Indonesia basah oleh keringat. Sepatu mereka terbalut lumpur. Namun di wajah-wajah itu terpancar kebanggaan.
Semen dituang. Diratakan. Dipadatkan.
Angkong kembali lagi ke molen.
Berulang. Tanpa keluh. Tanpa lelah.

Di situlah makna TMMD ke-127 terasa nyata — bukan di panggung upacara, bukan di balik meja rapat, tetapi di roda angkong yang terus berputar, di tangan-tangan kuat yang mendorong tanpa pamrih.
Karena rabat beton itu bukan sekadar proyek pembangunan.
Ia adalah jalur masa depan.
Ia adalah saksi bahwa pengabdian tak pernah setengah jalan.
Dan hari itu, di bawah langit desa,
setiap dorongan angkong adalah bukti:
TNI hadir, bekerja, dan membangun bersama rakyat.

LAINNYA