Gresik – Di balik rimbunnya pepohonan di Dusun Gupit, Desa Slempit, sebuah rumah sederhana nampak tetap hidup meski malam kian larut pada Kamis, 7 Mei 2026. Cahaya lampu kecil yang berpendar dari ruang tengah menandakan adanya aktivitas hangat di tengah sunyinya pedesaan Gresik.
Ibu Ani, sang pemilik rumah, nampak sibuk di dapur kecilnya dengan gerakan yang pelan namun pasti. Ia sedang menyiapkan wingko dan ketan hangat, suguhan istimewa yang ia tujukan khusus untuk 11 prajurit TNI AD dari Yonif 500/Sikatan yang tengah mengabdi di sana.
Para prajurit tersebut merupakan bagian dari Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 yang sedang menjalankan tugas pembangunan infrastruktur. Selama masa tugas, rumah sederhana milik Ibu Ani menjadi tempat bernaung sementara bagi para abdi negara ini.
Di meja makan kayu itu, tak ada hidangan mewah layaknya di restoran berbintang, melainkan hanya makanan sederhana yang dibungkus dengan ketulusan hati. Namun, bagi para prajurit yang seharian bergulat dengan lumpur dan debu, suguhan itu terasa lebih berharga dari apa pun.
Sambil menyantap hidangan, sesekali terdengar tawa pelan yang memecah keheningan malam di Dusun Gupit. Di balik candaan tersebut, tersimpan kerinduan yang mendalam terhadap anak, istri, dan orang tua yang terpaksa mereka tinggalkan demi menjalankan tugas negara.
Ibu Ani sangat memahami gejolak batin yang dialami para prajurit muda tersebut tanpa perlu mereka berucap banyak. Baginya, melihat para tentara itu makan dengan lahap adalah sebuah kebahagiaan yang setara dengan menyambut kepulangan anak kandung sendiri.
“Saya sudah anggap mereka sebagai anak-anak saya sendiri,” ujar Ibu Ani dengan mata yang berkaca-kaca saat ditemui pada Jumat (08/05/2026). Ia memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang beranjak tidur dalam keadaan perut kosong.
Dedikasi Ibu Ani sungguh luar biasa; ia rela bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan dan menjadi orang terakhir yang memejamkan mata di rumah itu. Rumah tersebut kini bukan sekadar tempat singgah atau tempat tidur, melainkan telah menjelma menjadi sebuah dermaga kasih sayang.
Kehadiran para prajurit ini pun memberi warna baru bagi kehidupan Ibu Ani yang biasanya sepi. Untuk menghibur sang “ibu angkat”, para prajurit seringkali memetik gitar dan bernyanyi bersama, menciptakan harmoni yang menghangatkan suasana malam.
Ikatan emosional ini tumbuh secara alami di tengah rutinitas pekerjaan yang berat. Di sela-sela waktu luang, para prajurit TNI ini tak segan membantu Ibu Ani melakukan pekerjaan rumah tangga, mulai dari mencuci piring hingga membersihkan halaman.
“Ada rasa bangga sebagai seorang ibu. Karena mereka rajin sekali, bersihkan rumah dulu, menyapu halaman, mencuci piring dan lainnya,” ungkap perempuan paruh baya itu dengan nada penuh syukur dan haru atas bantuan yang ia terima.
Sertu Rudi, salah satu prajurit yang menginap, nampak sangat akrab saat membantu Ibu Ani mengaduk adonan kue wingko di dapur. “Kami sudah anggap Ibu Ani adalah keluarga dan orang tua kami. Beliau menerima kami dengan penuh kasih sayang,” tutur Sertu Rudi tulus.
Kini, rumah kecil di Desa Slempit itu menjadi bukti nyata bahwa di tengah penatnya tugas negara, rasa kekeluargaan tetap menjadi obat paling mujarab. Ibu Ani dan para prajurit TNI telah menemukan sesuatu yang indah: sebuah perasaan “pulang” meski jauh dari rumah.

