ACEH JAYA – Peringatan Haul Al-Mukarram Syaikhuna Abu H. Ibrahim Bin Ishaq ke-30 Tahun 2026/1448 Hijriah berlangsung khidmat di Komplek Pondok Pesantren Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI), Desa Jangeut, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Minggu (21/06/2026). Kegiatan yang dihadiri ratusan jamaah tersebut menjadi momentum untuk mengenang perjuangan dan keteladanan ulama sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah antara ulama, alumni dayah, santri, dan masyarakat.
Sekitar 500 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua MPU Aceh Jaya Tgk. Munawar Dani, S.H., Pimpinan Pondok Pesantren BUDI Abiya H. Afifuddin Ibrahim, Pimpinan Dayah Raudhatul Ma’arif Cot Trueng Tgk. H. Muhammad Amin Daut, Ketua I Rabithah Alumni BUDI Pusat Abi H. Mustafa Thaib, S.H., S.Ag., Ketua II Rabithah Alumni BUDI Pusat Abati H. M. Dahlan Yahya, Camat Jaya Samsudin Arani, S.Pd., Camat Indra Jaya H. Ridwan, S.Ag., Danramil 01/Jaya Kapten Inf Sopyan, Kapolsek Jaya AKP Rizal Ariga, S.H., Danposramil Indra Jaya Serma Ishak Idris, para tokoh agama, keuchik, alumni, santri, dan masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Aceh Jaya.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Tgk. Syahrul dan Shalawat Badar yang menambah suasana religius di lingkungan pesantren. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua I Rabithah Alumni BUDI Pusat yang menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya haul serta mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan acara tersebut.
Dalam sambutannya, Ketua I Rabithah Alumni BUDI Pusat menegaskan bahwa Pondok Pesantren Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam mencetak generasi berilmu dan berakhlak mulia. Keberadaan dayah dinilai telah memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan sumber daya manusia, baik di Aceh Jaya maupun di berbagai daerah lainnya. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan terus menjaga dan mendukung keberlangsungan lembaga pendidikan Islam sebagai pusat pembentukan karakter dan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis nilai-nilai keislaman.
Puncak kegiatan diisi dengan kajian akbar yang disampaikan oleh Pimpinan Dayah Raudhatul Ma’arif Cot Trueng, Tgk. H. Muhammad Amin Daut. Dalam tausiyahnya, beliau menjelaskan makna haul, ziarah kubur, serta pentingnya meluruskan pemahaman keagamaan sesuai tuntunan syariat Islam. Menurutnya, peringatan haul bukan sekadar mengenang sosok ulama yang telah wafat, tetapi juga menjadi sarana mendoakan para pendahulu serta mengambil hikmah dan keteladanan dari perjuangan mereka dalam menyebarkan ilmu agama.
Tgk. H. Muhammad Amin Daut juga menjelaskan bahwa ziarah kubur memiliki nilai pendidikan spiritual karena dapat mengingatkan manusia akan kehidupan akhirat dan pentingnya mempersiapkan amal saleh. Ia menerangkan bahwa Rasulullah SAW pada awal perkembangan Islam pernah melarang ziarah kubur karena dikhawatirkan umat kembali pada kebiasaan jahiliah. Namun setelah akidah umat semakin kuat, ziarah kubur menjadi amalan yang dianjurkan karena dapat melembutkan hati dan mengingatkan manusia kepada kematian.
Selain kajian keagamaan, kegiatan haul turut diisi dengan doa bersama dan samadiah yang dipimpin oleh Tgk. Syamusir serta diikuti seluruh alumni, santri, dan masyarakat yang hadir. Suasana penuh kekhusyukan tampak saat para jamaah bersama-sama memanjatkan doa untuk Al-Mukarram Syaikhuna Abu H. Ibrahim Bin Ishaq serta para ulama yang telah berjasa dalam pengembangan pendidikan dan dakwah Islam.
Sebagai penutup kegiatan, panitia membacakan sejarah singkat perjalanan hidup Al-Mukarram Syaikhuna Abu H. Ibrahim Bin Ishaq yang disampaikan oleh Tgk. Ramdhani Arsyi. Dalam pemaparan tersebut dijelaskan berbagai kiprah dan kontribusi beliau dalam membangun pendidikan Islam, membina masyarakat, serta mencetak generasi penerus yang memiliki pemahaman agama yang kuat dan berakhlak mulia.
Peringatan Haul Ke-30 Al-Mukarram Syaikhuna Abu H. Ibrahim Bin Ishaq berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar hingga selesai. Kegiatan ini menjadi bukti kuatnya hubungan antara ulama, alumni, santri, dan masyarakat dalam menjaga warisan keilmuan Islam sekaligus memperkuat nilai-nilai persaudaraan, pendidikan, dan dakwah yang terus berkembang di Kabupaten Aceh Jaya.(0114).

