
Pesawaran — Pagi belum sepenuhnya tinggi ketika deru molen mulai memecah keheningan di Desa Tanjung Rejo. Asap tipis mengepul dari mesin pengaduk. Cangkul menghantam campuran semen, pasir, dan split. Hari itu, tanah desa yang dulu becek saat hujan dan berdebu saat kemarau, bersiap berubah menjadi jalan kokoh melalui program TMMD ke-127 yang digelar Kodim 0421/Lampung Selatan.
Air semen dituang. Cetakan dipasang. Ratakan. Padatkan. Ulangi.
Gerakan itu bukan sekadar teknis pembangunan — itu adalah ritme pengabdian.
Seorang warga berseru di sela kerja,
“Dulu kalau hujan turun, motor sering tergelincir, Pak!”
Seorang prajurit, wajahnya penuh peluh, menjawab sambil tersenyum,
“InsyaAllah setelah ini, jalan ini kuat. Anak-anak sekolah tidak akan takut jatuh lagi.”
Keringat bercucuran, membasahi seragam loreng milik prajurit Tentara Nasional Indonesia. Tangan-tangan kokoh meratakan permukaan beton dengan roskam panjang. Setiap tarikan alat perata seperti menghapus kesulitan lama yang selama ini membelenggu mobilitas warga.
Di bawah terik matahari, tidak ada keluhan. Yang ada hanya semangat.
Tidak ada jarak antara TNI dan rakyat. Yang ada hanya satu barisan — barisan pembangunan.
Rabat beton itu menghampar perlahan. Abu-abu, keras, dan tegas.
Namun di balik warna sederhana itu, tersimpan cerita besar:
tentang anak-anak yang akan berlari tanpa takut terjatuh,
tentang hasil panen yang lebih mudah diangkut,
tentang ibu-ibu yang tak lagi khawatir saat membawa dagangan ke pasar.
Karena rabat beton TMMD ke-127 bukan sekadar lapisan semen di atas tanah.
Ia adalah jalur harapan.
Ia adalah urat nadi ekonomi desa.
Ia adalah bukti nyata bahwa negara hadir bukan dengan janji, tetapi dengan karya.
Dan ketika senja menyentuh permukaan beton yang masih basah,
pantulannya seperti berkata
Di sinilah masa depan sedang dicor.
Di sinilah pengabdian ditorehkan.
Di sinilah TMMD ke-127 menuliskan sejarahnya.