Jumat, Oktober 16, 2026
BerandaTNIKasdam III/Siliwangi Ajak Publik Perkuat Literasi Digital Hadapi Perang Kognitif

Kasdam III/Siliwangi Ajak Publik Perkuat Literasi Digital Hadapi Perang Kognitif

BANDUNG — Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) membawa tantangan baru bagi masyarakat. Selain memberikan kemudahan dalam memperoleh dan menyebarkan informasi, perkembangan tersebut juga membuka ruang bagi munculnya berbagai bentuk manipulasi informasi yang dapat memengaruhi cara berpikir publik.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan bedah buku Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025 karya Kepala Staf Kodam (Kasdam) III/Siliwangi Brigjen TNI Agus Bhakti.

Kegiatan yang digelar Program Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) tersebut berlangsung di Vue Palace, Artotel Curated, Kota Bandung, Kamis (15/10/2026). Diskusi dihadiri kalangan akademisi, mahasiswa, serta pengamat militer.

WhatsApp Image 2026-10-16 at 16.20.03.jpeg

Dalam pemaparannya, Brigjen TNI Agus Bhakti menekankan pentingnya peningkatan literasi masyarakat sebagai salah satu langkah menghadapi ancaman perang kognitif di era digital.

Menurutnya, masyarakat dengan kemampuan literasi yang baik akan memiliki daya tahan lebih kuat dalam menyaring berbagai informasi yang beredar di ruang publik, termasuk hoaks, disinformasi, misinformasi hingga malinformasi.

“Literasi menjadi bagian penting untuk membentengi nalar publik dari informasi yang menyesatkan,” ujar Agus dalam diskusi tersebut.

Ia menjelaskan, perang kognitif tidak lagi hanya berkaitan dengan konflik konvensional, tetapi telah berkembang ke ruang digital dan menyasar persepsi serta pola pikir manusia.

Fenomena tersebut, kata Agus, berpotensi menimbulkan erosi kepercayaan antarmasyarakat, merusak kepercayaan epistemik, hingga memperlebar polarisasi sosial apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk memverifikasi informasi.

Agus juga menyoroti perkembangan teknologi disruptif seperti AI dan deepfake yang semakin memungkinkan terciptanya konten menyerupai fakta sebenarnya.

Menurutnya, malinformasi menjadi salah satu bentuk ancaman yang perlu diwaspadai karena dapat menggunakan fakta yang benar, tetapi dikemas dengan intensi dan tujuan narasi yang dapat menimbulkan dampak destruktif.

Ia menambahkan, perkembangan pertahanan siber di berbagai negara menunjukkan bahwa medan konflik telah berkembang menjadi operasi multi-domain yang turut menyasar ranah kognitif manusia.

Karena itu, peningkatan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam memahami informasi digital dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan sosial di tengah derasnya arus informasi.

Melalui diskusi tersebut, masyarakat akademik diharapkan dapat terus mendorong kajian mengenai perang kognitif sekaligus memperkuat kesadaran publik agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang sengaja dibangun untuk memanipulasi persepsi.

TNI

Most Popular